Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Kamis, 14 Juni 2012

PENELITIAN DI MAKAM SULTAN HASANUDDIN

 



Bangunan makam sultan hasanuddin ditemukan pada tahun 1948. Bangunan ini sudah 400 tahun lamanya, dari abad ke 16. Luas bangunan ini 13.333 m. bangunan ini sebelum didapat ialah semak berlukar yang dilindungi oleh pohon-pohon besar.
Sultan Hasanuddin dikalahkan oleh VOC waktu ia menandatangani perjanjian Bungaya. Sultan hasanuddin dijuluki Ayam Jantan Dari Timur karena waktu melawan VOC belanda ia tidak mundur selangkah pun ia selalu di depan untuk perang. Pada waktu Sultan Hasanuddin takluk pasukan-pasukan Hasnuddin masih melanjutkan peperangan tetapi tidak seperti dulu dan semakin lemah maka di rebutlah oleh Belanda. Jenazah-jenazah pasukan Sultan Hasanuddin di semayamkan terpencar.
Nama ayah Sultan Hasanuddin Karaeng Manuntungi Daeng Mattola dan nama kakeknya ialah Karaeng Manngarangi Daeng Manrabani Sultan Alauddin. Paman dari Sultan Hasanuddin adalah Sultan Abdullah yang digelar Macan keboka ri tallo. Hasanuddin masuk islam pada usia 7 tahun. Sultan Hasanuddin memiliki 9 orang istri yang pertama dan kedua Hasanuddin mempunyai anakdan pernah jadi raja. Presiden yang ertamakali mendatangi di makam Sultan Hasanuddin ialah Ibu Megawati Soekarno Putri. Yang membawa jenaza Sultan Hasanuddin adalah keturunan dari Sultan Hasanuddin.
Meriam yang terletak di dekat pintu gerbang Sultan Hasanuddin adalah meriam asli dari tembaga. Meriam itu sejak abad ke-16 bersamaan ditemukan makam Sultan Hasanuddin. Raja yang terakhir adalah Andijo Karaeng Laloa sekaligus Bupati pertama. Batara Gowa dinobatkan pada usia 23 tahun sama dengan Sultan Hasanuddin. Ada tiga sumur di Gowa yaitu Bungung Barania tapi sudah ditutup oleh Belanda; Bungung Lompoa terletak di sebelah barat makam Sultan Hasanuddin, Bungung Lompoa dibangun pada abad ke-13 bersamaan dengan Istana Tamalate; dan Bungung Bissua terletak di belakang kantor lurah Katangka. Semua benda-benda bersejarah di Balla Lompoa adalah asli dan yang lainnya disimpan dalam sebuah kamar yang dijaga oleh makhluk halus. Balla Lompoa dibangun pada tahun 1936 sekaligus Istana Raja Gowa yang terakhir Andijo. Istana Raja Gowa yaitu Istana Tamalate bermukim seorang manusia (Tumanurung) bersama suami dan putra-putranya, Istana Sultan Hasauddin dengan ayah dan kakeknya di Benteng Somba Opu. Batu Pallantikang digunakan untuk melantik para raja, di batu itu bermukim seorang perempuan yang bernama Tumanurung adalah bidadari yang turun dari langit membawa mahkota.


    RAJA GOWA KE-XVI
Nama lengkapnya adalah I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonro Mangape.
Nama lahirnya Muhammad Bakir lebih mashur dengan nama Sultan Hasanuddin serta julukan Ayam Jantan dari Benua Timur. Beliau lahir 12 Januari 1629, mangkat 12 Juni 1670 gelar kemangkatannya Tumenanga Ri Balla Pangkana. Baginda adalah termasuk Pahlawan Nasional. Jabatan resmi sebelum dinobatkan jadi Raja Gowa mulai dari Tumakka-Jannang kemudian Tumabbicara Butta menyusul Pati Matarang.
Baginda dinobatkan jadi raja pada usia 23 tahun. Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya) beliau lakukan pada tanggal 18 November 1667 dengan pihak Belanda. Masa pemerintahan dari tahun 1653 sampai 1669.
Baginda dengan permaisurinya I Bate Daeng Tommi putri raja Tallo I Mangada Cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingaloang Tumenanga I Mangada  ri bonto biraeng memperoleh putra yang kemudian menjadi raja, dari istrinya yang lain bernama I Peta Daeng Nisali memperoleh putra yang kemudian juga menjadi raja (Somba).


    RAJA GOWA KE-XVIII
I Mappasossong Daeng Mangewai Karaeng Bisei Sultan Ali. Lahir pada hari Ahad 20 November 1654, mangkat 1680. Baginda bersaudara kandung Raja Gowa ke XIX (I Mappadulung) dan turun dari tahtanya pada tahun 1677 bersama 400 orang pengiring meninggalkan Gowa menuju Batavia (Jakarta). Setelah berdiam diri dari beberapa lamanya, Baginda mangkat di Batavia (Jakarta) akhirnya di makamkan di bukit Tamalate.
Gelar kemangkatannya Tumenanga ri Jakarta. Masa pemerintahan dari tahun 1674-1677.

    RAJA GOWA KE-XV (Ayah dari Sultan Hasanuddin)
Nama lengkapnya I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikul Said (Muhammad Said) Tumenanga Papang Batena lahir Selasa Desember 1605, mangkat Rabu 15 November 1653.
Dalam perjalanan pemerintahan Baginda didampingi oleh Mangada Cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingallong selaku Mangkubumi masa-masa tersebut kerajaan Gowa dalam puncak zaman keemasan daerah kekuasaannya menjangkau beberapa daerah belahan nusantara.
Kerajaan Gowa dikenal di dunia internasional. Baginda pula yang menyuruh membangun benteng pertahanan diantaranya dikenal Benteng Somba Opu.
Benteng terbesar dan menjadi ibukota kerajaan Gowa. Masa pemerintahannya dari tahun 1639-1653.
Baginda dengan permasurinya I Lomo Takontu seorang bangsawan putrid dari Lakang. Beliau-lah yang melahirkan pahlawan nasional Sultan Hasanuddin dan seorang putri bernama I Fatimah Daeng Nisakking Karaeng Botto Je’ne.

    ARUNG LAMONGCONG
Arung Lamongcong beliau adalah salah seorang anggota hadar kerajaan Bone pada zaman itu dan beliau adalah seorang dari keempat anggota hadar yang mengantar jenazah raja Gowa I Tadjibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta ke istana kerajaan gowa.

    RAJA TALLO KE-VI
Raja Tallo ke-VI adalah paman dari kakek Sultan Hasanuddin, nama lengkapnya I Mallingkoan Daeng Manyonri Karaeng Karang Matoaya.
Lahir tahun 1573, mangkat 6 Juni 1636.
Menjadi mangkubumi kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV, Raja yang pertama masuk Islam di Sulsel sehingga mendapat gelar Sultan Abdullah Awalul Islam dan mengajak kemenakannya masuk Islam.
Raja Gowa XIV Sultan Alaudin beliau bersama baginda giat dalam menyebarkan agam Islam ke daerah-daerah Sulawesi Selatan dan akhirnya beberapa kerajaan masuk Islam.

0 komentar:

Posting Komentar